Hasil Rapid Test Reaktif, Jangan Panik Dulu

JEPARA – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dr Fakhrudin meminta kepada masyarakat agar tidak panik mengenai informasi tentang adanya sejumlah orang reaktif positif dari hasil rapid test beberapa waktu lalu.

Menurutnya rapid test yang dilakukan secara acak di sejumlah pusat keramaian menunjukkan adanya beberapa orang yang reaktif positif. Tapi bukan berarti mereka positif atau terjangkit korona. Sebab untuk menentukan apakah seseorang positif dari wabah tersebut, tetap harus merujuk hasil polymerase chain reaction (PCR) atau swab.

Saat memberikan keterangan, pada Senin (25/5/2020), dr Fakhrudin mengungkapkan Rapid Diagnostic Test (RDT) atau yang dikenal rapid test disini hanya sebagai pemeriksaan screening atau penyaring, bukan untuk mendiagnosa infeksi virus korona atau Covid-19. Sehingga tidak perlu panik.

Test yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus korona sejauh ini hanyalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan ini bisa mendeteksi langsung keberadaan virus korona, bukan melalui ada tidaknya antibodi terhadap virus ini.

Bila hasil rapid test positif, jangan panik dulu. Antibodi yang terdeteksi pada rapid test bisa saja merupakan antibodi terhadap virus lain atau coronavirus jenis lain, bukan yang menyebabkan Covid-19 atau SARS-Cov-2.

“Jadi perlu dilakukan pengambilan swab untuk tes PCR guna memastikan apakah benar terdapat infeksi SARS-CoV-2 atau tidak,” kata dia.

Ada banyak jenis virus corona. Virus corona yang menyebabkan penyakit Covid19 adalah virus corona jenis baru, yang diberi nama SARS-CoV-2. Sedangkan RDT atau swab adalah tes  cepat untuk screening atau deteksi adanya zat imun (antibodi) yang timbul akibat infeksi virus, yang tidak spesifik untuk SARS-CoV-2. Bisa jadi antibodi virus corona lain yang terdeteksi.

“Bisa jadi RDT reaktif, hasil swab PCRnya tidak terkonfirmasi Covid-19 atau negatif. Untuk itu kita tunggu saja hasilnya,” kata dia.

Sebelum melakukan tes PCR atau selama menunggu hasilnya, mereka yang reaktif bisa menjalani isolasi mandiri di rumah minimal 14 hari. “Selama isolasi, hindari bepergian dan kontak dengan orang lain yang tinggal serumah, sambil menerapkan pola hidup dan sehat. Terapkan selalu physical distancing atau jaga jarak,” tutur dia.

Dikatakan Fakhrudin, apapun jenis virusnya, kuncinya tetap daya tahan tubuh. Gizi, vitamin, dan istirahat yang cukup. “Upayakan selalu bahagia dan semangat. Patuhi pakai masker, dan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir,” kaa dia.

Diberitakan sebelumnya Tim GTPP Covid-19 telah menemukan 9 orang reaktif setelah dilakukan Rapid Test secara acak di sejumlah pasar di Kabupaten Jepara. Selain itu juga ditemukan 2 orang reaktif covid di Kelurahan Bulu, Jepara.

“Warga atau tetangga sekitar jangan sampai mengucilkan dan memberikan diskriminasi orang yang hasil rapid test reaktit. Sebaliknya, justru harus kita berikan dukungan, semangat serta motivasi,” katanya. (DiskominfoJepara/Dian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *